Rangkaian yang umum dikenal

Dalam tradisi Jawa, beberapa keluarga mengenal rangkaian seperti geblak, nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, pendhak pisan, pendhak pindho, dan nyewu. Detail nama dan praktiknya dapat berbeda antar daerah.

Rangkaian ini biasanya menjadi ruang doa, sedekah, dan berkumpulnya keluarga serta tetangga.

Dua cara mulai hitungan

Metode hari wafat sama dengan hari ke-1 berarti hari wafat ikut dihitung sebagai hari pertama. Metode hari wafat sama dengan hari ke-0 berarti hitungan dimulai dari hari setelah wafat.

Perbedaan satu hari ini membuat tanggal nelung dina, mitung dina, dan beberapa hasil lain dapat berbeda.

Contoh dua metode

Jika keluarga memakai metode hari wafat sama dengan hari ke-1, hari wafat ikut dihitung sebagai awal rangkaian. Jika memakai metode hari wafat sama dengan hari ke-0, rangkaian dimulai dari hari setelah wafat.

Perbedaan ini membuat nelung dina dan beberapa tanggal slametan berikutnya bisa bergeser satu hari. Karena itu Wetonque menampilkan dua tombol hitung agar pengguna bisa memilih sesuai adat keluarga.

Utamakan adat keluarga

Jika sesepuh, modin, atau kebiasaan desa memiliki hitungan sendiri, gunakan itu sebagai pegangan utama. Kalkulator Wetonque membantu membuat acuan awal yang rapi agar keluarga tidak menghitung dari nol.

Catatan Pembacaan

Hasil weton, hari baik, dan slametan di Wetonque adalah acuan umum berbasis parameter yang diseragamkan. Untuk praktik keluarga, keputusan sesepuh, modin, atau adat desa tetap dapat diutamakan.

Lanjutkan di Wetonque

Gunakan fitur terkait untuk melihat hasil yang langsung dihitung dari tanggal lahir atau tanggal acara.